NAAT II KALAM FALAKI--Dalam diskursus sejarah Islam Nusantara, nama Walisongo bukan sekadar deretan tokoh penyiar agama, melainkan arsitek peradaban yang meletakkan fondasi kultural, sosial, dan spiritual bangsa. Namun, seiring berjalannya waktu, sejarah yang besar sering kali dihadapkan pada tantangan pelupaan atau bahkan pengaburan identitas. Di sinilah Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) hadir, bukan sekadar sebagai lembaga pencatat, melainkan sebagai penjaga gerbang kebenaran sejarah melalui metodologi saintifik genealogi (ilmu nasab).
Episentrum Pencatatan Nasab Global
NAAT berdiri sebagai institusi yang memikul amanah berat: melakukan penelitian, verifikasi, dan pemeliharaan silsilah keturunan Walisongo. Ruang lingkupnya tidak lagi terbatas pada teritorial administratif Indonesia, melainkan meluas hingga ke seluruh penjuru Nusantara, Asia Tenggara, bahkan menjangkau komunitas dzurriyah di kancah internasional.
Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga naqobah internasional, NAAT memposisikan silsilah Walisongo sebagai bagian tak terpisahkan dari pohon besar keturunan Rasulullah SAW (Asyraf/Saadah) di dunia. Upaya ini memastikan bahwa setiap klaim nasab memiliki sandaran literatur yang kuat (kitab-kitab rujukan) dan pengakuan kolektif yang valid (syuhrat wal istifadhah), sehingga marwah para pendahulu tetap terjaga dari distorsi sejarah.
Tantangan di Era Disrupsi Informasi
Menjadi keturunan Walisongo di abad ke-21 membawa beban tanggung jawab yang tidak ringan. Setidaknya ada tiga tantangan utama yang dihadapi:
- Verifikasi di Tengah Anonimitas Digital: Di era media sosial, klaim sepihak mengenai nasab sering kali muncul tanpa validasi otoritas resmi. NAAT menghadapi tantangan untuk memberikan edukasi kepada publik agar tidak terjebak pada romantisme silsilah semata, melainkan mengedepankan bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar'i.
- Stigmatisasi dan Eksklusivitas: Ada risiko di mana penyebutan "dzurriyah" disalahartikan sebagai bentuk eksklusivitas sosial atau feodalisme modern. Tantangan bagi para keturunan adalah membuktikan bahwa kemuliaan nasab harus berbanding lurus dengan kemuliaan akhlak, bukan menjadi alat untuk mencari privilese sosial.
- Fragmentasi Data: Sebaran keturunan yang mencapai jutaan jiwa di berbagai belahan dunia menuntut digitalisasi data yang masif dan aman. Sinkronisasi data antar-wilayah memerlukan ketelitian tinggi agar tidak terjadi tumpang tindih atau hilangnya mata rantai sanad (inqitha').
Peluang Positif: Dari Silsilah Menuju Maslahah
Di balik tantangan tersebut, keberadaan NAAT dan terorganisirnya para dzurriyah membuka pintu peluang yang luas bagi kemajuan umat:
- Rekonsiliasi Sejarah dan Budaya: Dengan data nasab yang akurat, rekonstruksi sejarah dakwah Islam di Nusantara menjadi lebih utuh. Hal ini memperkuat identitas nasional dan menjadi modal diplomasi kebudayaan di tingkat Asia dan dunia.
- Jaringan Strategis Dunia (Global Networking): Hubungan NAAT dengan lembaga internasional membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, ekonomi, dan dakwah. Keturunan Walisongo dapat menjadi jembatan (bridge builder) antara peradaban Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Tenggara.
- Laboratorium Karakter dan Kepemimpinan: Mengetahui bahwa seseorang membawa darah para pejuang Islam memberikan dorongan psikologis positif untuk menjaga integritas. Ini adalah peluang untuk mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang memiliki akar historis kuat dan visi masa depan yang jelas.
Kesimpulan
Organisasi NAAT bukan sekadar "penjaga kertas tua" berisi daftar nama. Ia adalah lembaga vital yang memastikan bahwa ruh perjuangan Walisongo tetap hidup melalui garis keturunannya yang sah. Pencatatan nasab adalah upaya memuliakan masa lalu demi menavigasi masa depan.
Bagi para dzurriyah, nasab bukanlah sekadar kebanggaan genetis, melainkan sebuah "kontrak moral" untuk melanjutkan estafet dakwah rahmatan lil 'alamin. Dengan validasi yang dilakukan NAAT, silsilah Walisongo bertransformasi dari sekadar catatan privat menjadi aset peradaban publik yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kedamaian dan kemajuan dunia. Ke depan, dukungan publik dan integrasi teknologi akan menjadi kunci bagi NAAT untuk tetap menjadi mercusuar kebenaran silsilah di Nusantara dan dunia.(JUM & YTR)
Oleh : Bdr. Yahya (Sekretaris LP3SN NAAT)