BANGI, SELANGOR II BERITA NAAT -- Sebuah dinamika intelektual yang luar biasa mewarnai jalannya Sidang Meja Bulat (Roundtable Discussion) bertajuk “Genealogy, Migration and Islamisation: Strengthening the Narrative of Familial Ties Between Uzbekistan and the Nusantara”. Kegiatan yang diselenggarakan di Sudut Wacana ATMA, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Bangi ini, menjadi panggung pembuktian kekuatan data primer manuskrip Nusantara yang dibawa oleh delegasi Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT) Indonesia.
Acara dibuka secara resmi oleh Ahmad Shaiful Alwi bin Md Nor sebagai moderator, yang dilanjutkan dengan VIP Keynote Speech oleh Prof. Emeritus Dato' Dr. Wan Hashim Wan Teh, Presiden Pertubuhan Melayu Polinesia Sedunia (WMPO). Memasuki sesi presentasi, atmosfer forum mulai memanas saat para pakar memaparkan temuan sejarah mereka. Presentasi diawali oleh Prof. Dr. Sayyid Kamil Khan Kattayev dari Museum Samarkand Uzbekistan, disusul oleh Ketua Umum DPP NAAT, KH. R. Ilzamuddin Sholeh, serta Puan Suzana binti Othman dari Sekretariat Syeikh Jumadil Kubra.
Ketegangan ilmiah memuncak ketika terjadi perbedaan data yang sangat signifikan mengenai sosok orang tua Sunan Ampel Surabaya. Dalam paparannya, Prof. Dr. Sayyid Kamil Khan Kattayev, yang merupakan sarjana terkemuka Uzbekistan, menyatakan bahwa ayah Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmoroqondi—sebuah narasi yang telah ia tuliskan dalam berbagai buku karyanya. Namun, narasi tersebut langsung disanggah oleh delegasi NAAT dengan argumen yang sangat kuat dan berani.
Berdasarkan data primer berupa manuskrip kuno asal Madura dan Jawa yang dibawa langsung ke lokasi, KH. R. Ilzamuddin Sholeh bersama KH. R. Abd Hamid Roqib Suryodirjo sebagai pendamping menegaskan bahwa ayah Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmoro, bukan Ibrahim Asmoroqondi. Suasana forum seketika menjadi riuh saat delegasi NAAT menunjukkan inkonsistensi silsilah dalam buku-buku milik Prof. Kamil Khan Kattayev. Diketahui bahwa data terbaru sang profesor justru bersumber dari keterangan lisan oknum ulama Indonesia yang tidak disebutkan namanya, sehingga dianggap tidak memiliki sandaran sumber primer yang valid.
Momen dramatis terjadi saat Prof. Kamil Khan Kattayev bersama peserta forum lainnya melihat langsung bukti fisik manuskrip kuno yang dihadirkan oleh tim NAAT. Sang profesor asal Uzbekistan tersebut tampak terkejut melihat keotentikan data yang dimiliki NAAT, yang selama ini jarang terakses oleh peneliti luar negeri. Sanggahan ilmiah ini tidak hanya mengoreksi sejarah, tetapi juga mempertegas posisi NAAT sebagai lembaga yang memegang teguh akurasi data silsilah berdasarkan naskah-naskah kuno yang valid.
Meskipun sempat diwarnai perdebatan sengit, forum tetap berjalan dengan etika akademis yang tinggi. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dinamis, termasuk masukan dari perwakilan Pattani Thailand (Wan Karim) serta delegasi Filipina yang hadir secara daring. Acara internasional ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan pertukaran suvenir sebagai simbol persahabatan antara peneliti Nusantara dan Asia Tengah. Kemenangan data primer NAAT dalam forum ini diharapkan menjadi titik balik bagi penulisan ulang sejarah nasab Walisongo yang lebih akurat di masa depan. (YHY & SB)