BERITA NAAT II OPINI II -- Penulisan sejarah awal Islamisasi di Jawa, khususnya mengenai asal-usul para wali pionir, sering kali terjebak dalam batas kabur antara mitos (folklor) dan fakta historis. Salah satu kekeliruan kronis yang bertahan lama dalam ingatan kolektif masyarakat adalah penyebutan nama "Syekh Ibrahim Asmoroqondi" bagi ayahanda Raden Rahmat (Sunan Ampel). Narasi konvensional kerap mengaitkan nama tersebut dengan Samarkand di Asia Tengah. Namun, temuan bukti epigrafi terbaru di daratan Asia Tenggara daratan serta pembacaan ulang terhadap manuskrip Jawa abad ke-17 hingga ke-18 menawarkan rekonstruksi historis yang jauh lebih akurat: beliau adalah Syekh Ibrahim Asmara, yang namanya diambil dari sebuah wilayah di Kerajaan Campa (sekarang wilayah Vietnam tengah dan selatan).
Bukti Epigrafi: Negeri "Atmara" dalam Prasasti Campa
Sumbu utama rekonstruksi ini bertumpu pada peninggalan tekstual kontemporer berupa Prasasti Campa dengan kode registrasi C. 161, yang menjadi koleksi kuno pada Museum Da Nang, Vietnam. Reproduksi cetakan (estampage) prasasti ini telah lama diteliti oleh lembaga arkheologi Prancis, École française d'Extrême-Orient (EFEO).
Pada bagian belakang prasasti tersebut, tepatnya pada baris ketiga dari bawah menuju bagian akhir teks, secara eksplisit merekam keberadaan sebuah nomenklatur geografis (toponimi) lokal di Kerajaan Campa:
"...di nagara Atmara ... Saka 1365 [1443-1444 M]"
Penanggalan Saka 1365 (setara dengan tahun 1443–1444 Masehi) memberikan batas waktu (terminus ante quem) yang sangat valid bahwa wilayah bernama "Atmara" eksis secara administratif di Campa pada paruh pertama abad ke-15. Secara linguistik, kata Atmara mengalami adaptasi fonetis di lidah masyarakat Jawa menjadi Asmara. Tempat inilah yang menjadi pangkalan militer, ekonomi, atau basis kultural gerakan Islamisasi yang dipimpin oleh Syekh Ibrahim di daratan Indocina sebelum keturunannya bermigrasi ke Nusantara.
Koroborasi Manuskrip Jawa Abad 17–18
Temuan epigrafi di Da Nang tersebut berjalin kelindan secara presisi dengan tradisi tekstual Jawa. Salah satu naskah penting yang mencatat riwayat garis keturunan pujangga besar Kiai Ronggowarsito, yaitu Sajarah Dalem Pangiwa lan Panengen (sebuah naskah silsilah yang umum disalin dan dipelajari pada abad ke-18 dan ke-19), menuliskan fragmen migrasi sang tokoh:
"Maulana Ibrahim, dalem ana ing Jedah [Kedah], banjar ngalih marang nagara Cempa, kadadekhake [diangkat] imam ana ing Asmara ...."
Naskah ini memberikan petunjuk geografis yang runtut: Syekh Ibrahim (putra dari Syekh Jumadil Kubro) sempat bermukim di Kedah (Semenanjung Malaya), sebelum akhirnya melakukan migrasi besar (banjar ngalih) menuju negeri Campa. Di Campa, kapasitas keilmuan agamanya diakui oleh otoritas lokal hingga ia diangkat menjadi pemimpin spiritual atau imam di wilayah bernama Asmara (Atmara).
Penyebutan "Asmara" sebagai nama tempat—bukan gelar romantis atau asal geografis Asia Tengah—juga konsisten ditemukan dalam korpus sastra sejarah Jawa lainnya dari abad ke-17 hingga ke-18, seperti versi-versi awal Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha. Kekeliruan pelafalan menjadi "Asmoroqondi" barangkali merupakan anakronisme atau gejala etimologi rakyat (folk etymology) yang muncul pada abad ke-19 akibat ketidaktahuan penyalin generasi belakangan terhadap toponimi kuno di Campa yang runtuh akibat ekspansi Dinasti Le dari Vietnam.
Kronologi Migrasi ke Jawa
Guna memetakan lini masa kehidupan keluarga ini, teks Serat Babad Gresik memberikan jangkar kronologi yang berharga. Di dalam naskah tersebut diceritakan bahwa putra Syekh Ibrahim Asmara, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel), dikirim oleh ayahnya dari Campa menuju Pulau Jawa saat menginjak usia 20 tahun. Peristiwa eksodus spiritual ini tercatat terjadi pada tahun Saka 1341 atau sekitar tahun 1419–1420 Masehi.
Jika kita komparasikan dengan angka tahun Prasasti Campa (1443–1444 M), maka dapat ditarik benang merah bahwa aktivitas dakwah keluarga Syekh Ibrahim Asmara di komunitas Atmara/Asmara telah berlangsung mapan selama beberapa dekade, jauh sebelum wilayah tersebut mengalami pergolakan politik akibat perang kawasan di Indocina.
Rujukan
- Uka Tjandrasasmita (2009), Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini membedah hubungan jaringan ulama internasional antara Asia Tenggara Daratan (Campa) dan Nusantara.
- Arlo Griffiths, Andrew Hardy, & Geoff Wade (2012), "Champa: Territories and Networks of a Southeast Asian Kingdom", Journal of Southeast Asian Studies, Cambridge University Press. Jurnal ini mengulas katalogisasi prasasti EFEO termasuk kode C. 161. DOI: 10.1017/S002246341200004X.
- Martin van Bruinessen (1994), "Origins and Development of the Sufi Orders (Tarekat) in Southeast Asia", Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Jurnal ini menelisik transmisi silsilah fungsional para syekh awal di Nusantara. DOI: 10.15408/sdi.v1i1.864.
Oleh : Dr. H. Mohammad Subhan, MA
Sekretaris Jenderal DPP Naqobah Ansab Auliya Tis'ah