Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

Iklan

IDUL ADHA 1447 H

Menyingkap Susur Galur Sunan Cendana Kwanyar

BERITA NAAT II OPINI -- Ilmu sejarah bersifat tentatif dan multi-perspektif. Historiografi mapan mengenai suatu bangsa atau klan dapat direvisi atau bahkan digugurkan ketika ditemukan bukti primer baru, atau ketika kritik sumber menunjukkan bahwa narasi tersebut tidak memiliki landasan empiris yang kuat.

Kita bisa melihat diantaranya historiografi genealogis para bhuju' di Madura yang kerap memicu perdebatan. Perdebatan tersebut muncul akibat beragamnya interpretasi terhadap naskah primer yang sama. Salah satu contoh yang saat ini masih menjadi diskursus adalah ketersambungan genealogis Sunan Cendana ke dalam silsilah Walisongo.

Berikut saya paparkan salah satu versi tentang asal-usul Sunan Cendana Kwanyar Bangkalan.

Berdasarkan naskah klasik yang ditemukan, sebetulnya gelar beliau semasa hidupnya adalah Kyai Syaikh Cendana. Penisbatan gelar Sunan kepada beliau dilakukan oleh para dzurriyah dan pegiat ziarah (simpatisan) atau pecinta beliau, setelah beliau wafat.

Kadang ada yang menyebut nama beliau adalah Zainal Abidin seperti Manuskrip Lar-Lar. Namun menurut hemat kami, Zainal Abidin adalah gelar (laqob) bukan 'alam isim.

Ada juga yang menyebut nama asli beliau adalah Raden Umar Mairi. Konon nama tersebut disandangkan waktu beliau masih kecil di Bangkalan.

Selain itu, ada juga gelar beliau yang didapat dari Kesultanan Mataram, yaitu Senopati Paranajaya. Arti Pranajaya adalah jiwa yang unggul/menang.


Ada beberapa versi alur genetika beliau dari jalur ibunya. Di antara yang terkuat dan terpilih bersumber dari tiga manuskrip. Diyakini tiga sumber tersebut lebih valid dan otoritatif, baik dari segi tahun, nama penulis, maupun kertasnya. Berdasar ketiga manuskrip tersebut, silsilah Sunan Cendana adalah :

1. Kanjeng Sunan Giri (Raden Paku), berputera;

2. Panembahan Kulon, Berputeri;

3. Nyai Gede Kedaton, berputera;

4. Kyai Syaikh Cendana.


Tiga manuskrip dimaksud didukung oleh manuskrip lain walaupun tidak tertulis angka tahun dan penulisnya. Naskah kembaran yang anonim tersebut diyakini sama-sama tua dilihat dari tinta, model Khat dan kertasnya. Dalam naskah lembaran tersebut disebutkan bahwa Kyai Syaikh Cendana Keturunan keempat dari Sunan Giri.

Keturunan Sunan Cendana menyebar di se-antero nusantara, terutama di 4 kabupaten di Pulau Garam Madura. Sepertinya tidak ada satu tokoh pesantren pun kecuali mengalir darah Kyai Syaikh Cendana di dalam dirinya. Bukan hanya para pengasuh pesantren, namun banyak juga dzurriyahnya yang menjadi negarawan, seperti Mahfud MD.

Di Kwanyar berkembang tutur tinular bahwa genetik pancer (jalur laki-laki) beliau adalah dari Kanjeng Raden Rachmatullah (Sunan Ampel) Surabaya. Pitutur itu sangat kuat dan sulit untuk ditolak apalagi ada petunjuk dalam beberapa manuskrip bahwa Nyai Gede Kedaton menikah dengan putra dari putranya Sunan Ampel.

Maka para pemangku makam Sunan Cendana sepakat dengan Susur Galur sebagai berikut :

1. Sunan Ampel Surabaya, berputera;

2. Raden Qosim (Sunan Drajat), berputera;

3. Kyai Khotib, berputera;

4. Kyai Syaikh Cendana.

Para pegiat sejarah dan nasab Sumenep turut menyumbang data arkeologis berupa prasasti makam Kyai yang diyakini sebagai cucu Kyai Syaikh Cendana yaitu Kyai Muban Ambunten. Prasasti di makam tersebut bertuliskan sebagai berikut:


Di dalam lingkaran:

هذا مرقد السيد الشريف مبان ابن السيد شيث ابن السيد جندان ابن السيد ......... ابن السيد قاسم درجة ابن السيد الشريف الولي الصالح على رحمت سهونن امفل رحمه الله تعالى


Di luar lingkaran

انتقل الى ..... سنة ............... هجرة النبي صلى الله عليه وسلم


Prasasti tersebut dikenal oleh komunitas pegiat arkeologi sumenep sebagai peninggalan yang sangat kuno. Oleh karena itu data tersebut dijadikan referensi keabsahan jalur Keturunan Kyai Syaikh Cendana yang ada di sumenep melalui Sayyid Syaits, Balang. Alhamdulillah masih bisa disaksikan sampai sekarang walaupun ada sebagian yang belum dapat dibaca, seperti Ayah Kyai Cendana atau Sayyid Cendana, namun jelas ditulis bahwa kakek Syaikh Cendana adalah Sayyid Qosim Drajat ibn Sayyid Syarif Alwaliyul Sholih Ali Rahmat Sunan Ampel Rahimahullahu.

Nama yang mutawattir di lingkungan keluarga kwanyar, ayah Kyai Syaikh Cendana adalah Kyai Khotib. Ketika dicocokan dengan Prasasti Ambunten di atas, maka presisi, walaupun masih perlu kajian lebih lanjut tentang siapa dan dimana letak makam orang yang diyakini sebagai ayah Kyai Cendana Kwanyar yang bernama Khotib tersebut.

Bisa jadi Khatib adalah gelar bukan nama sebenarnya, mengingat pada zaman itu para tokoh agama memang diberi gelar Khotib oleh masyarakat. Andaikata Khotib adalah gelar maka ada kecocokan gelar dengan Pangeran Khatib Sedayu karena sebagian dari dzurriyah Kyai Cendana menulis ayah beliau sebagai Khotib Bandardayu.

Ada sebuah catatan dari Kyai Salim trah Drajat, di mana beliau memiliki banyak manuskrip dari Drajat, mungkin bisa membantu menelusuri keabsahan genetik Kyai Syaikh Cendana, sebagai berikut:


SEPUTAR DZURRIYAH RADEN QOSIM SUNAN DRAJAT VERSI MANUSKRIP KELUARGA BESAR SUNAN DRAJAT :


Sunan Drajat/R. Qosim memiliki 3 orang putra, yaitu :

Dari istri pertama, Putri Zen Abdul Qadir Cirebon, beliau berputra 2 orang, yaitu :

1. Muhammad Arif(pangeran Taranggono), beliau berputra tiga orang, yaitu Maulana Muhammad/Pangeran Mas Surya Anom, Maulana Husain (Pangeran Mas Hadi Kusumo), dan Maulana Abdullah/Pangeran Pajarakan Probolinggo

2. R Jakfar Shodiq (pangeran Sandi)


Dari istri kedua, Puteri Sedayu, beliau memiliki seorang putra, yaitu :

1. Muhammad Rahmat al- khatib (pangeran Sedayu), beliau berputra dua orang , yaitu Ibrahim Bungah Gresik dan Zainal Abidin (Sunan Cendana) Kwanyar.

Jadi Dzurriyah Sunan Cendana Kwanyar yang sudah menyebar ke se-antero nusantara tetap meyakini jalur R. Qosim Sunan Drajat. Kalau data dari Kyai Salim Trah Drajat tersebut valid maka bisa dijadikan referensi dan disandingakan dengan prasasti Ambunten Sumenep, juga manuskrip yang sudah disampaikan di atas.


Silahkan didiskusikan, karena kebenaran sejarah itu sifatnya tentatif. Salam satu nasab untuk kejayaan nusantara.


Rahayu


Referensi:

* Manuskrip Toronan

* Manuskrip Larlar

* Manuskrip Tambaagung

* Manuskrip Bagandan

* Manuskrip Jeddung Pakamban

* Manuskrip Batuampar

* Manuskrip Yang ditemukan di Torjun

* Manuskrip Keraton Sumenep

* Prasasti Kyai Muban Ambunten

* Kyai Salim dalam sebuah channel Youtube tentang Dzuriyah Sunan Drajat.


Oleh : R Abdul Hamid Roqib Suryodirjo

*) Penulis adalah Sekretaris LP3SN NADIM

Artikel Sebelumnya
Ketua Umum DPP NAAT Tegaskan Sanad Walisongo Bukan dari Yama...

Berita Terkait: