Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

Iklan

Pelantikan DPC Banjar Bakula

Menjaga Marwah Nasab, Delegasi NAAT dan PBB Hadiri Haul Bujuk Agung Sayyid Husain Banyusangkah

Bangkalan II NAAT – Acara peringatan Haul Bujuk Agung Sayyid Syarif Husain Banyusangkah yang digelar baru-baru ini (20 /06/2026) bertempat di Desa Banyusangkah Kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan Madura berlangsung khidmat. Acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama terkemuka, tokoh masyarakat, serta delegasi resmi dari Naqobah Ansab Auliya til Tis'ah (NAAT). Kehadiran para tokoh ini mempertegas pentingnya haul bukan hanya sebagai momentum spiritual, melainkan juga sebagai ruang ilmiah untuk melestarikan sejarah dan menjaga kesucian nasab para wali di tanah Madura.

Hadir sebagai perwakilan resmi dari NAAT Daerah Istimewa Madura adalah Raden Abd. Hamid Roqib Suryodirjo, yang juga menjabat sebagai Sekretaris LP3SN. Selain delegasi NAAT, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Umum Persyarikatan Bujuk-Bujuk Madura (PBB), Sayyid Syarif KH. Kholil Muhammad Gunung Sari, yang bertindak sebagai penceramah utama. Turut hadir memberikan doa dan dukungan moral, tokoh ulama kharismatik Madura seperti Sayyid Syarif KH. Abdul Adzim Khalili Kepang dan Sayyid Syarif KH. Imam Bukhari Bangkalan.

Penelusuran Silsilah Berbasis Manuskrip Kuno

Dalam kesempatan tersebut, Raden Abd. Hamid Roqib Suryodirjo—atau yang akrab disapa Bindara Hamid—memaparkan secara detail konstruksi silsilah Bujuk Agung Sayyid Syarif Husain Banyusangkah. Berdasarkan penjelasannya, jalur nasab beliau menyambung kepada Sunan Cirebon Zen Abdul Qodir, putra dari Maulana Ishaq Tamsyi Mawali Demak, yang merupakan putra dari Maulana Ibrahim Abu Ishaq (yang masyhur dikenal sebagai Maulana Ishaq).

Bindara Hamid menegaskan bahwa silsilah ini tidak diambil dari asumsi lisan belaka, melainkan didasarkan pada kajian filologi yang kuat. Pembuktian jalur keturunan ini berlandaskan pada Manuskrip Larlar, yang diperkuat oleh keberadaan dokumen sejarah lainnya seperti Manuskrip Bagandan dan Manuskrip Jaddung. Seluruh dokumen kuno tersebut secara selaras menjelaskan eksistensi Kiai Kanigoro (Sulaiman) serta validitas jalur keturunan Sunan Cirebon di Pulau Madura.

Pentingnya Verifikasi dan Perapian Nasab

Senada dengan pemaparan Raden Suryodirjo, Ketua Umum PBB, Sayyid Syarif KH. Kholil Muhammad Al-Jilani, dalam ceramah agamanya memberikan apresiasi sekaligus dukungan penuh atas terselenggaranya haul ini. Lebih lanjut, beliau mendorong tim perbani (pencatat silsilah keluarga) untuk segera merapikan dan mengodifikasi pencatatan keturunan Sayyid Syarif Husain Banyusangkah.

Langkah ini dinilai krusial demi memagari kemurnian nasab di masa depan. Menurutnya, setelah proses ini rampung, tidak boleh ada pihak yang mengklaim atau dinisbatkan kepada Bujuk Banyusangkah kecuali mereka yang silsilahnya telah terverifikasi secara ketat oleh para munsib resmi perbani Bujuk Banyusangkah.

Sementara itu, Sayyid Syarif Ja'far Shodiq yang hadir mewakili keluarga besar Bujuk Batuampar Barat, turut menyampaikan pesan mendalam melalui gubahan qasidahnya. Dalam bait-bait syairnya, beliau menegaskan sebuah falsafah bahwa genetika atau garis keturunan orang-orang mulia kelak akan melahirkan generasi yang mulia pula, yang setidaknya akan menempati derajat spiritual sebagai kaum Abrar (orang-orang baik) jika belum mencapai derajat Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Struktur Keturunan dan Garis Silsilah Atas

Berdasarkan catatan sejarah penataan silsilah, Sayyid Syarif Husain Banyusangkah menurunkan empat putra utama yang tersebar di berbagai wilayah Madura, yaitu:

  1. Sayyid Abdurrohman ing Bire: Wafat di Desa Bire, Sokobanah Daya. Beliau merupakan leluhur yang menurunkan mayoritas keturunan di Batuampar Barat, Pamekasan, dan sekitarnya.
  2. Sayyid Aly Amier Qodiman: Wafat di Ombul, Kedungdung, Sampang. Beliau menurunkan mayoritas penduduk di daerah Bire, Ombul, dan sekitarnya.
  3. Sayyid Isa ing Arosbaya: Garis keturunannya saat ini masih dalam proses penelusuran lebih lanjut (belum terdeteksi).
  4. Sayyid Abdul Wahid ing Blega: Menurunkan keturunan yang tersebar di wilayah Blega dan sekitarnya.

Adapun jika ditarik ke atas, garis leluhur dari Sayyid Husain Banyusangkah bermuara pada Sayyid Ibrahim Abu Ishaq yang dikenal sebagai Maulana Ishaq atau Sunan Malaka. Berikut adalah urutan garis nasab vertikalnya:

  1. Sayyid Ibrahim Abu Ishaq (Maulana Ishaq / Sunan Malaka), menurunkan:
  2. Sayyid Ishak Tamsyi Mawali ing Demak (Sutamaharaja), menurunkan:
  3. Sayyid Zain Abdul Qodir (Sunan Cirebon / Gunung Jati / Syarif Hidayatullah [Note: Berdasarkan teks catatannya]), yang memiliki putra-putra di antaranya:
  4. Sayyid Sulaiman Mojoagung
  5. Sayyid Bagir Baha'uddin Geloran Sidoarjo
  6. Sayyid Husain Banyusangkah

Melalui momentum haul ini, diharapkan kesadaran sejarah dan komitmen pelestarian nasab di kalangan keturunan walisongo di Madura semakin kuat, objektif, dan terjaga otentisitasnya dari generasi ke generasi.(SB & HMD)

Artikel Sebelumnya
Mengurai Benang Merah Sejarah: Jejak Hubungan Kesultanan Ban...
Artikel Selanjutnya
Resmi Dilantik, Dewan Pengurus Cabang NAAT Wilayah Banjar Ba...

Berita Terkait: