Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

Iklan

Yayasan al-Muarifin

Iklan

DPP NAAT

Menjemput Lailatul Qadar: Menapak Jejak Istiqomah Wali Songo dan Spiritualitas Syekh Jumadil Qubro**

WARTA NAQOBAH II NAAT -- Ramadhan bagi kita, keluarga besar dzurriyah Wali Songo, bukanlah sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani untuk menyambung kembali sanad spiritualitas kita kepada para leluhur yang telah mengislamkan Nusantara dengan kasih sayang. Di antara kemuliaan Ramadan, terdapat satu titik puncak yang menjadi dambaan setiap mukmin, yaitu Lailatul Qadar. Namun, bagi para Auliya Tis’ah, malam kemuliaan tidak dicari dengan ambisi sesaat, melainkan dijemput dengan keteguhan hati yang kita kenal sebagai Istiqomah.

Istiqomah: Manhaj Dakwah Leluhur

Jika kita menengok sejarah agung Syekh Jumadil Qubro, sang kakek dari para Wali Songo yang bersemayam di Troloyo, kita akan menemukan bahwa kunci keberhasilan dakwah beliau adalah keteguhan yang tak tergoyahkan. Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas bukan tentang satu malam yang penuh keajaiban, melainkan tentang napas ibadah yang konsisten.

Para Wali Songo melanjutkan manhaj ini. Mereka tidak hanya beribadah saat merasa bersemangat; mereka membangun peradaban dengan wirid, sujud, dan khidmah kepada umat secara terus-menerus. Inilah strategi utama mendapatkan Lailatul Qadar: jangan mengejar malamnya, tapi kejarlah Pemilik malamnya melalui kebiasaan ibadah yang stabil sejak awal Ramadan hingga akhir hayat. Sebagaimana kaidah ushul: "Al-istiqomatu khairun min alfi karamah"—istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah.

Pandangan Empat Imam Madzhab tentang Lailatul Qadar

Dalam menjaga koridor syariat, kita senantiasa merujuk pada empat imam madzhab yang menjadi pilar keilmuan kita:

  1. Imam Abu Hanifah: Menekankan bahwa Lailatul Qadar bisa saja berpindah-pindah di sepanjang tahun, namun sangat ditekankan pada bulan Ramadan. Beliau memotivasi kita untuk selalu terjaga dalam ketaatan di setiap malam.
  2. Imam Malik: Dalam Al-Muwatta, beliau memandang Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Beliau menekankan pentingnya I’tikaf sebagai sarana isolasi diri dari hiruk-pikuk dunia.
  3. Imam Asy-Syafi’i: Imam yang diikuti mayoritas warga NAAT ini berpendapat bahwa Lailatul Qadar paling potensial jatuh pada malam ke-21 atau ke-23 Ramadan. Beliau mengajarkan kita untuk memperbanyak doa dan tilawah secara konsisten di sepuluh malam terakhir.
  4. Imam Ahmad bin Hanbal: Sejalan dengan hadits-hadits shahih, beliau sangat menekankan pencarian Lailatul Qadar pada malam ke-27. Namun, semangat yang beliau bangun adalah semangat peribadatan yang totalitas tanpa putus.

Perspektif Wali Songo: Dakwah dan Munajat

Wali Songo, seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel, memiliki cara khas dalam mendidik umat menjemput malam mulia. Mereka memperkenalkan konsep "Maleman" atau "Selikuran". Ini bukan sekadar tradisi budaya, melainkan strategi psikologis agar umat tetap istiqomah. Ketika fisik mulai lelah di akhir Ramadan, tradisi ini memacu semangat dzurriyah untuk memperkencang ikat pinggang dalam beribadah.

Bagi kita di NAAT, jejak Syekh Jumadil Qubro mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah dicapai melalui Riyadhah (latihan) yang disiplin. Beliau melakukan perjalanan ribuan mil demi dakwah dengan hati yang tetap menetap dalam zikir. Maka, mendapatkan Lailatul Qadar bagi seorang dzurriyah adalah dengan cara menjadikan seluruh malam Ramadan sebagai "malam pertemuan" dengan Sang Khalik.

Penutup: Strategi bagi Warga NAAT

Wahai keluarga besarku, mari kita lalui sisa Ramadan ini dengan strategi istiqomah. Jangan hanya bersemangat di malam-malam ganjil, tapi hiasilah setiap malam dengan sedekah, zikir, dan pelayanan kepada sesama. Lailatul Qadar akan menghampiri mereka yang hatinya telah terbiasa "terjaga" bersama Allah.

Mari kita jaga marwah leluhur kita. Mari kita buktikan bahwa darah Wali Songo yang mengalir dalam tubuh kita adalah darah para pejuang ibadah yang tak kenal lelah. Semoga Allah menganugerahkan kita kemuliaan Lailatul Qadar dan menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang istiqomah.(LILIS & AGUS)

** KH. R. ILZAMUDDIN SHOLEH

Ketau Umum NAAT Indonesia & Pengasuh PP. Al-Fatih Proppo Pamekasan

Artikel Sebelumnya
Cahaya di Pesisir: Perjalanan Rohani Walisongo dalam Dakwah...
Artikel Selanjutnya
Safari Ramadhan DPP NAAT 1447 H: Sinergi Ulama dan Teknologi...

Berita Terkait: