Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

NAAT Perkuat Jejaring Global: Menghadiri Diseminasi Inklusi Disabilitas Hasil Kerjasama UKWMS, Cardiff, dan Edinburgh Napier University

SURABAYA II NAAT -- Sekretaris Jenderal Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT), Mohammad Subhan, menghadiri acara Workshop & Dissemination hasil penelitian kolaborasi internasional bertajuk “Transforming Universities in Indonesia: Co-Creating Disability Inclusive Practices” pada hari Rabu, 25 Februari 2026, di UKWMS Kampus Pakuwon City Surabaya menjadi sebuah momentum penting bagi perjalanan organisasi ini. Kegiatan yang dilaksanakan sejak pukul 12.00 hingga 18.00 WIB tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari program British Council Going Global Partnerships (GGP) – Disability Inclusion Partnerships Grant, yang melibatkan kemitraan strategis antara Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dengan Cardiff University dan Edinburgh Napier University dari Britania Raya. Agenda besar ini difokuskan pada upaya transformasi perguruan tinggi di Indonesia melalui penguatan praktik pendidikan yang inklusif terhadap penyandang disabilitas, yang dilakukan melalui mekanisme kolaborasi dan penciptaan bersama antar pemangku kepentingan.

Dalam konteks organisasi NAAT, kehadiran representasi tertinggi kesekretariatan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengontekstualisasikan nilai-nilai luhur yang telah digariskan sejak deklarasi organisasi pada tahun 2017. Sebagaimana tertuang dalam visi NAAT yang mendunia, pengabdian terhadap kemanusiaan merupakan salah satu pilar utama yang harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata. Isu inklusi disabilitas yang dibahas dalam workshop tersebut memiliki keterhubungan yang sangat erat dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan yang diwariskan oleh para leluhur Wali Songo. Partisipasi NAAT dalam forum akademik internasional ini menunjukkan bahwa organisasi tidak hanya berkutat pada persoalan internal pencatatan nasab, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial kontemporer yang menyentuh harkat dan martabat manusia. Nilai kasih sayang atau Sittung Dere yang menjadi ruh organisasi secara otomatis dipraktikkan dalam bentuk dukungan terhadap terciptanya ekosistem pendidikan yang tidak diskriminatif bagi penyandang disabilitas.

Bagi warga NAAT, keikutsertaan Sekjen dalam kegiatan ini memberikan pesan kuat mengenai arah masa depan organisasi yang semakin unggul dan modern. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil riset kolaborasi Cardiff University dan Edinburgh Napier University ini dapat dijadikan acuan oleh lembaga-lembaga di bawah naungan NAAT, khususnya Lembaga Pendidikan (LAPAN), dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif di lingkungan internal warga. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi jembatan bagi warga NAAT untuk memperluas jejaring internasional, mengingat keterlibatan British Council sebagai penyokong utama hibah kemitraan tersebut. Dengan terlibatnya pimpinan dalam wadah berbagi praktik baik ini, peran NAAT dalam membangun peradaban yang berkeadilan semakin diakui oleh pihak eksternal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini secara langsung meningkatkan reputasi organisasi sebagai jam’iyah yang adaptif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap transformasi pendidikan di Indonesia.

Transformasi universitas yang diupayakan dalam workshop ini sejatinya selaras dengan upaya NAAT dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan nilai kearifan leluhur. Jika Wali Songo di masa lalu berhasil melakukan transformasi sosial budaya di Nusantara melalui pendekatan yang inklusif dan akomodatif, maka langkah Sekjen NAAT saat ini merupakan manifestasi modern dari manhaj tersebut dalam skala institusi pendidikan tinggi. Kehadiran ini juga mempertegas posisi NAAT sebagai mitra strategis dalam isu-isu kemasyarakatan, di mana warga NAAT diharapkan dapat menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas di wilayah masing-masing. Melalui kegiatan diseminasi ini, diharapkan tercipta sinergi berkelanjutan yang mampu membawa manfaat bagi masyarakat luas, sekaligus mengukuhkan identitas NAAT sebagai organisasi yang ikhlas mengabdi demi kemaslahatan semesta dan kejayaan peradaban manusia yang beradab.(MOCH & MUCH)

Artikel Sebelumnya
Nesciunt aut fuga quia aut vel autem explicabo id dicta cons...
Artikel Selanjutnya
Qui porro sed nam voluptates aut corrupti dolorem occaecati...

Berita Terkait: